ronny.haryan.to

Icon

Print: $9.50 — Online: free

Walking Mecha

mechaland walkerImagine the reactions you would get walking the streets of your neighbourhood in this robot/mecha vehicle from Sakakibara Kikai (too bad I can’t read Japanese well). It might be slow and won’t beat the traffic jams (unless you stomp all the cars), but it will definitely get you some attention. I would seriously imagine something like this will be useful outside the city, like exploration or navigating difficult terrains. If I made this, I would equip it with GPS and all sorts of navigation and communication devices you can imagine, plus a powerful computer and an efficient power source. Well, someone else actually made another kind of mecha, with flame throwers, no less, and is trying to sell it on eBay to fund their next mecha prototype.

I predict that before the year 2040 people like you and me could own this kind of robots, and some of the robots from animes I watched since I was a kid, or at least some of their features, would come to reality.

Update: Another mecha that looks like Gundam

Membuat Kamus Online

Seringkali saya punya ide untuk membuat suatu aplikasi yang mungkin bisa berguna buat orang banyak, misalnya membuat kamus online bahasa Indonesia<->Inggris yang professional, bukan sekedar terjemahan kata per kata saja tapi juga contoh penggunaan, konteks yang berbeda-beda, part of speech / fungsi kata, idiom, padanan kata, etymology, dan referensi atau link ke kata atau sumber lain. Saya juga ingin kamus online ini mempunyai API web services misalnya lewat SOAP sehingga bisa diintegrasikan ke aplikasi lain (e.g. Dashboard widget atau GNOME applet), atau word of the day lewat RSS misalnya. Kamus ini juga nantinya bisa menampung masukan dari sumber-sumber lain yang berbeda-beda, mirip seperti dictionary.com. Sukur-sukur bisa dibuat cukup generik sehingga aplikasinya bisa digunakan kembali untuk keperluan lain (misalnya kamus Indonesia-Indonesia, atau Indonesia-Jawa, dsb.). Idealnya aplikasinya akan berlisensi free dan open source, begitu pula dengan isinya kurang lebih akan menggunakan lisensi seperti Creative Commons atau GNU FDL.

Karena saya orang teknis, saya cenderung mempunyai ide yang berawal dari design aplikasinya dahulu ketimbang memikirkan bagaimana saya akan mendapatkan contentnya. Saya sadar bahwa pada akhirnya aplikasi yang secanggih dan seuser-friendly apa pun jika tidak mempunyai isi yang bernilai kepada penggunanya sama saja bohong. Saya rasa ini adalah masalah klasik yang dihadapi web developers yang cenderung technical.

Membuat kamus dari scratch (nol) itu bukan pekerjaan mudah, dikerjakan full-time oleh seorang professional saja bisa memakan waktu bertahun-tahun barangkali. Alternatif yang ada adalah menggunakan sumber yang sudah ada dengan meminta ijin kepada pemiliknya (lebih kecil kemungkinannya tapi tidak ada salahnya dicoba), dan/atau membuat sendiri rame-rame a la Wiki. (Catatan teknis: Ini berarti ada dua lagi feature dari kamus online ini, yaitu bisa diedit oleh siapa saja (setelah login, dan mungkin menggunakan captcha), dan ada versioning control untuk jaga-jaga kalau kena vandalisme.) Sumber yang sudah ada yang bisa diadaptasi idealnya adalah yang berkualitas tinggi, seperti kamus edisi cetak yang dijual di toko-toko buku (walaupun tidak berarti semua kamus edisi cetak yang dijual di toko buku berkualitas tinggi), bukan sekedar kamus online buatan si Panjul atau si Unyil. Sejujurnya, dan cukup disayangkan, sampai saat ini saya belum menemukan satu pun kamus Inggris<->Indonesia online yang isinya berkualitas mendekati kamus edisi cetak.

Saya sudah punya gambaran garis besarnya untuk design aplikasinya untuk saat ini. Yang saya rasa lebih penting adalah memikirkan bagaimana mendapatkan isi kamus yang berkualitas. Ada ide atau saran lain barangkali?

Update: SEAsite dari Pusat Studi Asia Tenggara, Northern Illinois University menyediakan kamus Inggris-Indonesia yang mendekati apa yang saya cari. Mudah-mudahan jika waktu dan pemilik kamusnya mengijinkan saya akan konversi ke database dan interface yang seperti saya ceritakan di atas.

Hey, Girls!

L@@k, i DiScOvErEd tH3 ShIfT kEy!

~=[1f iT's H4rD T0 T¥p3, tHeИ It'S h@RdEr t0 R34d!]=~

And, NO, it’s neither cool nor cute.

Please. Learn to type properly. For the sake of humanity. Or use that as your password for a change, instead of bunnylove123.

Pembangkit Listrik Tenaga Manusia

Gara-gara membaca salah satu posting BoingBoing, dan teringat soal pemadaman listrik bergilir yang sering terjadi di Indonesia, jadi iseng nyari info tentang energi yang dihasilkan oleh treadmill yang ada di gym itu. Seberapa besar energi yang semestinya bisa dihasilkan? Kan sayang energi yang seharusnya bisa dikonversi dari tenaga gerak manusia itu menjadi energi listrik jadi terbuang. Walaupun mungkin kalau dipikir-pikir sih tidak besar.

Ternyata ada beberapa orang yang berpikiran sama. Idenya antara lain energi yang dihasilkan itu dikembalikan lagi ke power grid, atau digunakan untuk mensupply ke gym sendiri. Ada yang punya ide juga untuk memberi diskon gym berdasarkan besarnya energi yang dihasilkan.

Saya dari dulu selalu tertarik dengan sumber energi alternatif (non-fossil) yang bisa diperbaharui dan sustainable, antara lain solar cells, bio-diesel, arus laut, angin, dan lain-lainnya. Tapi kadang yang simple seperti tenaga manusia ini malah terlewatkan, mungkin karena energi yang dihasilkan sangat negligable dan tidak praktis untuk dijadikan sumber pembangkit listrik masal. Kecuali semua penduduk Indonesia diharuskan berlari di atas treadmill selama 3 jam sehari, lalu energi yang dihasilkan disimpan di baterai untuk digunakan sebagai penerangan malam harinya. Tapi ini tentu saja tidak masuk akal.

Tapi mungkin tidak perlu berpikir jauh-jauh. Mungkin energi yang dihasilkan cukup digunakan secara lokal saja. Misalnya kalau energinya dari treadmill ya digunakan untuk menghidupi sistem monitoring dari treadmill itu sendiri. Mirip seperti alat untuk merecharge baterai mobile phone atau GPS device di mana penggunanya harus memutar suatu tuas sampai menghasilkan energi yang cukup untuk merecharge baterainya di saat emergency, misalnya saat berpetualang di rimba belantara, hiking atau lagi off-road.

Ada sumber energi apa lagi yang bisa dihasilkan oleh tenaga manusia? Khususnya yang selama ini bisa dianggap terbuang begitu saja.

Update: Ada desa terpencil di Colombia bernama Gaviotas yang menjadi self-sufficient dengan mengimplementasikan ide-ide brilian. Informasi lebih lanjut.

Update 2007-03-06: Ternyata sudah menjadi kenyataan sekarang.

No New Logo for Planet Terasi

Since I have not received even a single entry for the Planet Terasi Logo Contest, then Planet Terasi will remain without logo for now.

Thanks!

About

Ronny Haryanto is a technology addict/chef wannabe living in beautiful Melbourne, Australia.

Read more…

Follow Me on Twitter

Follow @ronny on Twitter where I post much more often than my blog.