ronny.haryan.to

Icon

Print: $9.50 — Online: free

Bomb in London!

There were bomb explosions in London just a few hours ago. Very near to where I used to work (Liverpool Street Station). I was able to contact my friend (ex-coworker) who fortunately came to work early. He said he was OK. The building is virtually next to the Liverpool Street Station, but he said he didn’t feel or hear anything from the inside. The explosions affected several tube stations, maybe half of the Circle Line is down, according to my friend. He lives with his wife near Edgware Road station which is also affected. I hope you guys are going to be OK.

My heart, thoughts and prayers go to all the victims and their families. May God bless everyone in London who are affected and their families. I condemn these cowardly acts of terrorism. When is it going to stop?

Update: More than 30 die, more than 350 injured. Get the latest update on this from the BBC. Flickr pool.

Projects with Indonesian-Influenced Name

  • Java

    Java technology is a portfolio of products that are based on the power of networks and the idea that the same software should run on many different kinds of systems and devices.

    Java is the name of Indonesia’s most densely-populated island. The name Java used by Sun is perceived to have come from the Java coffee which the developers fond of drinking.

  • JavaScript

    JavaScript is the Netscape-developed object scripting language used in millions of web pages and server applications worldwide. Netscape’s JavaScript is a superset of the ECMA-262 Edition 3 (ECMAScript) standard scripting language, with only mild differences from the published standard. Contrary to popular misconception, JavaScript is not “Interpretive Java”. In a nutshell, JavaScript is a dynamic scripting language supporting prototype based object construction. The basic syntax is intentionally similar to both Java and C++ to reduce the number of new concepts required to learn the language. Language constructs, such as if statements, for and while loops, and switch and try … catch blocks function the same as in these languages (or nearly so.)

    Netscape was not creative enough by picking a confusingly similar name to Java, although there is no relation whatsoever between Java and JavaScript. Probably just to hop along Java’s popularity at the time. I like the original name, LiveScript, better.

  • Jakarta

    The Jakarta Project offers a diverse set of open source Java solutions and is a part of The Apache Software Foundation (ASF) which encourages a collaborative, consensus-based development process under an open software license.

    Jakarta is also the capital of Indonesia.

  • Komodo

    ActiveState Komodo is the award-winning, professional integrated development environment (IDE) for dynamic languages, providing a powerful workspace for editing, debugging and testing your programs. Komodo offers advanced support for Perl, PHP, Python, Tcl and XSLT, and runs on Linux, Solaris and Windows.

    Komodo is the name of an Indonesian island, popular for the Komodo Dragons which can only be found in just a few places in the world.

  • Kupu

    Kupu is a ‘document-centric’ open source client-side editor for Mozilla, Netscape and Internet Explorer. Inspired by Maik Jablonski’s Epoz editor, it was written by Paul Everitt, Guido Wesdorp and Philipp von Weitershausen (and several other contributors, for a complete list refer to the CREDITS.txt file) to improve the JavaScript code and architecture, pluggability, standards support, support for other webservers than Zope (which was the original target platform for Epoz), configurability and a lot of other issues.

    Kupu-kupu is an Indonesian word for butterfly.

  • Karapan Sapi

    Karapan Sapi is Web Application generator, based on Struts Framework. Karapan Sapi will generate some common code that always repeated in developing web application.

    Karapan Sapi is a popular bull race event from the island of Madura in East Java.

Any others?

5 Fakta Tentang Email

Berikut ini adalah beberapa fakta mengenai email yang mungkin belum disadari oleh sebagian pengguna awam, berdasarkan pengamatan pribadi saya. Daftar ini tidak berurutan.

Reply-To tidak perlu diisi jika sama dengan return address From.

Sepertinya ada anggapan bahwa kalau Reply-To tidak diisi maka orang tidak bisa membalas emailnya. Anggapan ini tidak benar. Reply-To hanya perlu diisi jika alamat email untuk replynya dikehendaki lain dari yang sudah disebutkan di From sebagai return address utama. Tanpa Reply-To program email bisa mendapatkan alamat pengirim dari From.

Menerima dan mengirim email itu terpisah dan tidak berhubungan langsung.

Pada jaman dahulu, email akan dikirim menggunakan protokol SMTP (masih dipakai sekarang) lalu kemudian ditampung dan dibaca langsung di server. Pengguna akan login langsung ke server untuk membaca email di situ. Karena pada jaman tersebut akses internet belum ada atau belum populer. Sampai saat itu belum ada konsep “mengambil” email, pengguna yang harus “datang” untuk membaca email. Setelah ada kebutuhan untuk membuat proses mengakses email lebih flexible, maka dibuat protokol seperti POP3 dan IMAP untuk mengambil atau membaca email dari server yang menampung email. Protokol SMTP tidak bisa digunakan karena SMTP membutuhkan lokasi tujuan yang sudah pasti, sedangkan lokasi pengguna seringkali tidak pasti, maka lebih masuk akal jika dibuat protokol seperti POP3 dan IMAP yang tidak mengharuskan kepastian lokasi pengguna, tapi cukup dengan asumsi kepastian lokasi mail server tujuan akhir dr SMTP.

Email tidak reliable dan tidak aman.

Infrastruktur email yang umum dipakai tidak mensyaratkan reliability dan keamanan, dua asumsi salah yang kerap ditemui mengenai email dan pengirimannya. Protokol pengiriman email yang ada dan digunakan saat ini (SMTP) tidak menjamin waktu dan durasi pengiriman email. Bukan tidak mungkin email yang dikirim hari ini ke si A dan si B akan diterima si A dengan segera dan baru akan diterima si B 4 hari kemudian. Walaupun secara etis dan konvensinya, mail server penerima atau relay bertanggung jawab atas pengiriman email hingga ke tujuan, tapi ini hanya best effort dan tidak dijamin. Faktor keamanan juga tidak dijamin kerahasiaannya, integritas pesannya, keabsahan identitas pengirim dan penerimanya, dan kebebasan isinya dari materi berbahaya atau yang tidak diinginkan seperti virus, spam, phishing scam, dan lain-lainnya. Walaupun sudah mulai ada yang mengimplementasikan perbaikan terhadap infrastruktur yang ada, tapi kenyataannya sekarang masih banyak yang belum. Jadi sekarang ini masih belum aman untuk berasumsi bahwa email itu reliable dan aman.

Email tidak didesign untuk mengirimkan files.

Seperti namanya, email itu tujuan utamanya adalah berkirim pesan. Pada awalnya pesan yang berupa teks saja. Namun kemudian ada kebutuhan untuk melampirkan berbagai file ke email, sehingga dicari akal untuk melakukan hal itu, seperti menggunakan uuencode/uudecode, dan MIME. MIME ini yang sekarang menjadi standard untuk mengirimkan lampiran melalui email. Infrastruktur email dari awal berasumsi bahwa pesan itu berupa teks dan berasumsi juga bahwa pesannya hanya dalam character set ASCII yang bisa direpresentasikan dengan 7-bit encoding. Karena itu untuk mengirimkan file yang bukan teks (seperti gambar, spreadsheet, zip) harus diakali untuk bisa direpresentasikan ke 7-bit, misalnya dengan menggunakan encoding base64 atau quoted-printable. Salah satu efek samping yang paling signifikan adalah bahwa ukurannya akan menjadi lebih besar. Secara rata-rata base64 membutuhkan 4 bit untuk merepresentasikan 3 bit, jadi kurang lebih ada penambahan sekitar 33% dari aslinya. Untuk mengirimkan file 5 MB akan ada overhead sebesar sekitar 1.65 MB sehingga total akan menjadi 6.65 MB. Atau jika digunakan pengandaian kasar begini, kita membayar akses internet 300 ribu per bulan hanya untuk mengirim email saja dan semua emailnya memiliki lampiran yang menggunakan encoding base64, dan akses internetnya dicharge berdasarkan bytes yang lewat (bukan berdasarkan waktu), maka dari 300 ribu itu hampir sekitar 75 ribu-nya hanya untuk membayar overhead tersebut.

Fungsi “compose” itu untuk menulis email baru, fungsi “reply” itu untuk melanjutkan percakapan atau topik yang sudah dibahas sebelumnya.

Fungsi “reply” akan menyertakan referensi ke pesan yang dibalas, sedangkan “compose” memulai pesan dari kosong. Penyertaan referensi ini ada di header “In-Reply-To” dan/atau “References”, bukan sekedar di subject saja.

Hal ini benar-benar dirasakan efeknya terutama di lingkungan mailing list, dan terutama untuk orang (atau program) yang sangat tergantung kepada fungsi threading yang mengelompokkan pembicaraan per topik dengan alur hirarki yang jelas dan mudah diikuti, pesan mana yang mengacu atau membalas ke pesan mana. Fenomena ini kerap dikenal dengan istilah thread hijacking, atau menumpang di thread lain padahal topiknya tidak berhubungan.

Sepertinya fenomena ini disebabkan kemalasan untuk mengetikkan alamat email penerima dan/atau ketidaktahuan akan cara menggunakan fungsi “address book”.

Modal Bertahan Hidup di Internet

Bahasa Inggris

Bahasa universal di Internet. Suka atau tidak, demikianlah kenyataannya.

Search Engine

Cari tahu sendiri tentang apa pun dan kapan pun. Kalau orang lain bisa tahu tentang sesuatu maka kemungkinan besar anda juga bisa menemukannya sendiri. Cukup belajar memilih keywords dan kombinasinya yang tepat.

Berpikir kritis, logis dan tidak ditelan mentah-mentah

Pertanyakan segalanya. Kenapa begitu? Apa buktinya? Kenapa saya mesti percaya? Apakah ini hoax? Pemahaman akan penggunaan search engine yang baik akan membantu kita melakukan riset untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak sebelum membuat keputusan atau mengambil posisi akan sesuatu. Ini tidak hanya di Internet.

Belakangan makin marak virus, spam, phishing, hoax, dan berbagai macam penipuan dan berita bohong lainnya yang mempunyai tujuan macam-macam, dari iseng sampai merusak. Dari pengamatan saya, memiliki modal di atas hanyalah sebagian dari yang paling dibutuhkan untuk cukup bertahan hidup di Internet, tapi itu yang paling mutlak menurut saya.

Book Tagged

Been book tagged by Sisil.

I have to admit that although I like to read a lot, I mostly read online now, articles, news and what not. I have a very short attention span, and I have always associated reading books with sleeping because I almost always read in bed before dozing off. That’s why I find it hard to study by reading, or committing myself to reading a book, especially thick book, unless it’s really a page-flipper like The Da Vinci Code.

Estimate the total number of books you’ve owned in your life.

Probably close to 1,000. Mostly comic books, computer reference books and a few detective novels.

What’s the last book you bought?

Dan Brown’s Angels & Demons and The Da Vinci Code omnibus (2-in-1).

What’s the last book you read?

Dan Brown’s Angels & Demons.

List 5 books that mean a lot to you.

  • The Holy Bible
  • The Da Vinci Code
  • Angels & Demons
  • Perl Cookbook
  • Detective Conan (don’t laugh)

Tag five people:

Priyadi, Boy, Andika, Adinoto, Budi

About

Ronny Haryanto is a technology addict/chef wannabe living in beautiful Melbourne, Australia.

Read more…

Follow Me on Twitter

Follow @ronny on Twitter where I post much more often than my blog.