ronny.haryan.to

Icon

Print: $9.50 — Online: free

Iseng dan Kreativitas

Beberapa hari belakangan ini lagi rame soal orang carmuk dan orang iseng yang jadi korbannya.

Saya tadinya gak ingin ikut-ikut di masalah ini, soalnya saya gak mau encourage yang carmuk dengan memberikan publikasi gratis. Tapi yah cuek dah, biar kebobrokan terungkap dan istilah “pakar multimedia” atau “pakar telematika” itu dikubur aja dalem-dalem. Mau muntah tiap kali denger itu.

Sudah berapa hari panas dibicarakan masalah ini di mana-mana, sampe akhirnya Enda bilang mau nanya ke SBY sendiri. Dan sekarang jelas sudah kenyataan yang sebenarnya.

Tenang aja, saya gak mau nulis lagi panjang lebar soal itu. Saya mau ngomongin soal sisi lainnya dari itu.

Sudah banyak sekali yang ngeblog dan media massa yang meliput (dengan benar maupun salah). Saya cuma mau bilang saya sudah lama kagum dengan SBY dan sekarang pun kagum dengan kebijaksanaan beliau dalam menghadapi hal ini. Walaupun belum pernah bertemu, saya yakin beliau orang yang punya common sense dan juga sense of humour yang baik, tidak mudah tersinggung dengan hal-hal remeh. Sebuah trait yang memang seharusnya dimiliki seorang pemimpin negara yang baik.

Beliau bilang gak akan menuntut, toh ini cuma bercanda atau iseng, tapi alangkah baiknya kalo keisengan itu diarahkan ke hal lain yang lebih positif seperti membuat kapal.

Menurut saya tidak semua keisengan itu sifatnya negatif, walaupun konotasinya cenderung demikian. Keisengan bisa jadi medium ekspresi kreatifitaskreativitas seseorang. Keisengan yang positif bisa menghasilkan banyak hal yang positif pula, seperti yang sifatnya seni (lukisan, musik, komedi, film, dsb.) Hasil iseng coba-coba bisa menghasilkan sesuatu yang baru dan unik. Keisengan orang memanipulasi foto banyak menghasilkan seni dan hiburan yang bisa dilihat antara lain di Worth1000.com. Banyak juga penemuan yang bermula dari keisengan.

Saya orangnya techie banget, jadi saya mencoba untuk mengimbangi perkembangan pribadi saya dengan hal-hal yang non-teknis juga. Seni dan sense of humour itu penting sebagai bagian dari manusia yang berbudaya tinggi. Saya sangat menghargai sense of humour yang baik. Ini sifat yang sayangnya kurang banyak dimiliki oleh orang-orang, sehingga menjadikan mereka terlalu gampang tersinggung dengan hal-hal yang sepele. Pak SBY mungkin tidak termasuk orang-orang tersebut. Humor membuat kita senang. Senang membuat kita lebih rileks. Rileks membuat kita tidak stress. Tidak stress membuat kita bekerja lebih baik. Kalo semua bekerja lebih baik maka pekerjaan bisa selesai dengan baik dan cepat. See the pattern?

Tapi seperti pisau, keisengan itu bisa disalahgunakan jika tidak berhati-hati atau jatuh ke tangan yang salah. Keisengan yang melanggar kebebasan orang lain itu bukan keisengan yang positif. Acara TV à la Spontan dan Candid Camera itu memang lucu buat ditonton, tapi butuh hati yang besar dan sense of humour yang baik dari para korban untuk mengerti bahwa itu hanya main-main. Kadang-kadang memang ada yang agak keterlaluan saya juga kurang enjoy jadinya. Semua ada batasnya. Batasnya ya itu tadi. Your freedom is fine as long as it doesn’t interfere with my freedom. Seandainya Herman memanipulasi foto SBY sehingga tampak seperti beliau punya affair dengan seseorang lalu menyebarkan berita palsu tentang affair tersebut, nah itu melanggar kebebasannya Pak SBY. Tapi memanipulasi foto yang sudah jelas-jelas terlihat dimanipulasi (lha wong dipasang bersama foto-foto manipulasi lainnya) dengan niat mengundang senyum dan tawa dari pemirsanya, … ya saya rasa anda bisa menilai sendiri.

Akhir kata, saya mengangkat topi ke Pak SBY atas kebijaksanaan beliau dalam menghadapi “masalah” yang sepele dan mengada-ada (tepatnya, diada-adakan oleh seseorang) ini. Saya hanya kurang setuju kalo “iseng jangan dikembangkan”. Iseng tidak selalu berarti negatif.

Category: Indonesia

Tagged:

6 Responses

  1. elly.s says:

    Saya juga kadang bingung dgn istilah “pakar telematika” yang ditujukan pada si RS itu . Apa udah bener dari segi bahasa gitu, kok kayaknya ngada ngada banget.
    Trus kalo tentang iseng yang gak ditanggapi serius sama SBY, saya juga angkat topi deh, kebayang gak sih kalo Suharto or Gusdur digituin, wah bakal runyem.
    Btw saya juga boleh dong ngasih masukan bahwa iseng sih boleh tapi ya lihat2 dulu donk siapa orangnya. Lha kalau presiden kita itu rada rada suka mangku cewek yang namanya Aryati tapi nggak ngaku baruitu “pakar telematika”. diperlukan ya nggak? he he he. Lha kalau sekarang rasanya hampir semua kita merasa sayang sama SBY khan? Jadi ojo diolok2 yang rada2 sensitif atuh mas.Tapi saya tetap pendukung “kreatifitas” dan “keisengan” lho.

  2. enda says:

    yoi soal “iseng” itu gue rasa age barrier aja hahaha

  3. carlos patriawan says:

    bener om enda….beda umur beda penafsiran,tapi maknanya sama :)

  4. Dinny says:

    (OOT) Jadi pengen kenal sama Mas Ronny, saya juga kena tilang polisi EYD :D.

  5. sedih kalo bandingin Spontan dengan Candid Camera atau Just For Laughs (made in Canada tuh, hehehe). ide mainin orangnya mungkin sama2 bolehlah, tapi liat reaksi orang2 kita yang ketakutan liat orang asing atau langsung lari menjauh untuk ‘menghindari masalah’ atau takut karena bakal ada tawuran, kerusuhan, orang mabuk/gila… sedih deh. yah bagaimana lagi, wong di jakarta jalan di trotoar atau di mall dan meleng aja mungkin bisa jadi korban kriminalitas.

  6. ronny says:

    Just For Laughs itu sebetulnya nama comedy festivalnya di Montréal. Acaranya banyak, gak cuma ngerjain orang yg sering dilihat di TV indo aja. Yang ngetop justru stand-up comedynya, yang sayangnya gak ngetop di indo.

About

Ronny Haryanto is a technology addict/chef wannabe living in beautiful Melbourne, Australia.

Read more…

Follow Me on Twitter

Follow @ronny on Twitter where I post much more often than my blog.