ronny.haryan.to

Icon

Print: $9.50 — Online: free

“Thanks Before”

“Thanks before.”

“Same same.”

“Don’t follow mix.”

“Your children fruit is stupid very much.”

“My body is not delicious.”

I don’t know what the correct English translation is, so I will just assume that I can translate the words one by one, it should make sense, right? After all, each word can only have exactly one direct translation, right? It’s impossible that a word in one language can have more than one meaning in another language. And screw the context. We don’t need no context. And what did you say about culture? It has nothing to do with translating.

Since we are very good with assumptions, we always assume everything we don’t know because we can’t be bothered to look for what’s right. Assuming is easier. Mathematicians do it often, why can’t we? If I just assume the problem doesn’t exist then it’s not there anymore. Problem solved. Wait, what problem?

OK, the next person who says “thanks before” has to send me cookies.

Detikcom dituntut semua penghuni Apartemen Taman Anggrek

Emang cuma mereka doang yang bisa bikin overly sensational headlines?

Detikcom dituntut penghuni Apartemen Taman Anggrek

Teksnya demikian:

Gudang Ekstasi di Apartemen Taman Anggrek Digerebek Polisi – Indra Subagja – detikcom

Jakarta – Diam-diam penghuni Apartemen Taman Anggrek, Tanjung Duren, Jakarta Barat, menggunakan kamar 19 tower 5 sebagai gudang ekstasi. Setahun beroperasi, polisi sukses
menggerebek.

Well, detikcom belum actually dituntut sih. Tapi ya siap-siap aja.

BTW, reporter mereka itu proses seleksi waktu hiringnya gimana sih? Kayaknya kebanyakan kok kemampuan berbahasa Indonesianya aja meragukan banget. Boro-boro kemampuan jurnalistiknya. Yang bagus cuma kemampuan misleading pembaca lewat headlines yg sengaja dibuat sensasional dan/atau isi tulisan yang tidak netral dan dijejali pendapat pribadi penulisnya yang cenderung menghasut.

Buat anda yang bilang “Ya udah, lu ngapain baca detikcom kalo udah tau begitu?” maka jawabannya adalah karena saya tidak tinggal di Indonesia dan saya mau tau apa yang terjadi di Indonesia lewat internet, dan karena belum ada alternatif lain situs berita yang lebih cepat dan lebih baik. Jadi saya baca detikcom cuma baca inti dari kejadiannya aja tanpa pay attention ke apa yg benar2 ditulis karena kebanyakan crap dan cuma bikin saya annoyed.

Oh, satu lagi kehebatan detikcom: pinter bikin pembacanya annoyed. Iklan yg jumlahnya seabreg-abreg, beranimasi pula, gak ada RSS/Atom feed, sok mau disable right click, tampilan layout yang bikin mata sakit, a complete web design disaster.

Kalo anda tau alternatif situs berita Indonesia yang secepat detikcom saya akan sangat menghargai kalo anda memberitahukan lewat komentar.

About

Ronny Haryanto is a technology addict/chef wannabe living in beautiful Melbourne, Australia.

Read more…

Follow Me on Twitter

Follow @ronny on Twitter where I post much more often than my blog.