ronny.haryan.to

Icon

Print: $9.50 — Online: free

Secara Goblok

“Secara” artinya adalah “dengan cara”. Jangan pernah menggunakan kata secara jika yang anda maksud adalah soalnya atau karena atau sebab. Secara anda akan kedengaran seperti orang goblok jika menggunakan secara tidak pada tempatnya. See what I mean?

Category: Indonesia, Lingua

Tagged:

23 Responses

  1. Koen says:

    Tentu, Bro. Memang itu sengaja dibuat salah untuk melucu secara massal. “Dilarang menggunakan kata ‘secara’ secara benar.”
    Kalau dalam konteks serius, memang menunjukkan bahwa pemakainya uneducated: lebih banyak baca majalah pop daripada suratkabar dan buku2.
    Kenapa kelucuan harus dimassalkan? Karena memang kaum2 uneducated (bukan dalam arti tidak bersekolah tinggi, tapi dalam arti tidak menghargai ilmu) sedang naik daun. Ah, you know better :).

  2. ronny says:

    Awalnya dari mana sih? Dan kenapa kok lucu? I don’t get it.

  3. Vavai says:

    Sesuatu yang salah namun kelihatan modis biasanya mudah populer di Indonesia, secara ini merupakan sesuatu yang umum (hehehe…)

    “Secara” itu modis ? Kelihatannya begitu. Paling tidak, ada anggapan kalau kita tidak paham salah-kaprah secara itu, kita dianggap not well-educated

    Senang juga akhirnya ada yang pointing masalah ini ;-)

  4. avianto says:

    Ternyata ada juga yang ‘terganggu’ dengan pemakaian ‘secara’ yang sembarangan hehehe.

    Tapi ya seperti kata Vavai, modis ≠ ‘smart’ hehe. Secara …, ah sudahlah.

  5. idban says:

    kalo kita pake sebabnya atau karena atau soalnya kesannya jadul om, secara sekarang adalah 2008 jadi… cape deh…
    *kabur*

  6. Ah, ini hanya tren sesaat saja. Nggak perlu dikhawatirkan. Karena fenomena seperti ini maka bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dinamis. Jangan-jangan 25 tahun mendatang, misalnya, kata ‘secara’ secara resmi menggantikan kata ‘karena’ atau ‘sebab’. Bukankah kita juga sering tertawa membaca koran yang terbit puluhan tahun lalu karena mereka menggunakan bahasa yang terkesan aneh padahal koran itu menggunakan bahasa Indonesia juga.

    *sok berteori…*

  7. ronny says:

    Soal bahasa yang dinamis dan selalu beradaptasi sih gak masalah, asalkan jelas asal usulnya dan masuk akal, contohnya istilah2 komputer seperti “mouse”, “file”, dst, atau asimilasi dengan logat/dialek, seperti “gue”, “ngeselin”, dst.

    Yg ngeselin adalah kalo yang diserap itu asalnya salah atau salah kaprah atau pemilihan istilah/nama yg tidak berpikir panjang (seperti “busway”).

    Makanya saya penasaran, asal muasalnya dari mana penggunaan “secara” yg salah seperti ini. Yg lebih penting lagi, gimana kita memperbaiki dengan tidak ikut2an dan memberi tahu kalo ada yg ngomong ke kita.

  8. IMW says:

    Ketika kita di LN, sering kita jadi gamang terharap perubahan yang terjadi di Indonesia. Termasuk juga bahasa. Angkatan saya yang di LN mungkin sering memasalahkan gaya anak muda sekarang (secara dsb), angkatan 50 yang di kini di LN sering mempermasalahkan bahasa muda jaman saya (yg katanya berbau ORBA).

    Kegamangan ini biasanya karena kekurang pahaman kontekstual dari perubahan bahasa itu. Dan sering membuat mereka yang di LN mengecam macam-macam (orang Indonesia pengen gaya lah, sok ini lah sok itu lah).

    Bahasa sangat bersifat dinamis, bahkan utk bahasa Jerman yg kaku dan masyarakat yang kaku pun berubah, dan inipun sering membuat “gagap”. Banyak orang tua begitu terkaget-kaget mendengar anak muda Jerman berucap “Fettt….eee” (apa ndak bingung Fett itu lemak, koq jadi artinya keren/bagus dsb).

    Penyerapan bahasa aslinya dengan konteks lokal juga sah-sah saja. Dan tidak perlu dianggap tidak berfikir panjang. Di tiap bahasa juga terjadi gitu (contoh simple stakeholder USA vs stakeholder UK).

    Yang penting, tahu menempatkannya saja, dan memahaminya. Tanpa perlu jadi sok tahu. Umur saya sudah di atas 40 tahun tapi saya selalu mencoba memahami cara anak SMA berbicara, bukan karena mencari ABG lho :-) tapi karena mereka lah yang bakal jadi mahasiswa saya. Ntar bingung lagi saya pas mereka ngomong.

  9. bank al says:

    Menurut Jaya Suprana,”Lucu adalah Kelirumologi”.
    Dengan kata lain, sesuatu itu menjadi lucu karena kekeliruannya.
    Coba saja ingat-ingat apa yg menurut Mas Ronny lucu. Most of the time hal tersebut lucu karena keliru.

    Dan lucu itu memang tidak universal. Yg lucu buat seseorang, belum tentu lucu buat orang yg lain.

    Jika ditinjau dari concern terhadap penggunaan bahasa, memang penggunaan “secara” ini tidak lucu. Dan ini mungkin salah satu sebab mengapa humor ini menurut Mas Ronny tidak lucu.

  10. rendy says:

    secara gitu loh, hihihi
    om ronny kudu banyak turun ke lapangan, dan ngobrol ma abege… puchiiink… :p

  11. ak says:

    Memang aneh betul itu mereka yang salah menggunakan kata “secara” dengan tidak tepat. Saya juga merasa terganggu dengannya.

  12. ronny says:

    Jadi setelah introspeksi, kesimpulannya ada dua:

    • saya udah tua,
    • yang bikin saya lebih kesel lagi bukan penggunaan yg salahnya, tapi ikut2annya (“ada apa dengan…”, “hare gene”, “secara”, dan baca aja koran / liat tv Indonesia).
  13. IMW says:

    Ikut-ikutan itu terjadi secara “alami”. Dan itu bukan saja di Indonesia. Saya yakin di seluruh dunia, juga terjadi hal yang sama.

    Bedanya kita sering kritis terhadap apa yg terjadi di Indonesia (dan itu bagus), tapi kita begitu menerima apa adanya di negara tempat tinggal saat ini.

    Kalau Anda gatel dengan hare gene, Anda juga kudu gatel dengan “Gua on the way nih”. “yg jadi consideration bla /..bla…bla”

    Begichuuuuuuuuu… koq binun, lha hujhan hujhan bechek ndak ada ojhek aja ndak pada bingung

  14. Jay says:

    Hiahahaha, baru sadar nih Ron, secara ini pernah gue komplen juga.

    *halah*

  15. someone says:

    sim sim saya jg komplen soal ginian. -_- aneh aja pokoknya, parahnya kalo sudah salah ditiru-tiru trus jadi Ejaan yang dibenarkan bah!
    tapi:
    (1) usia dibawah 3 abad belum termasuk tua
    (2) ah sutralah… takut ngomong panjan nanti takut digebukin kebanyakan nyerocos jadi dosen -_-

    mari budayakan bahasa batak. sudah kubilang jangan ikut berperang masih berperang juga dia, ditembak belanda dia, mati dia, dimakan cacing dia. benga’ kali ko bonaga..

  16. bonar says:

    pas banget!
    rasanya masih aneh aja mendengar kata ‘secara’ dipakai tidak dengan semestinya…

  17. andriansah says:

    Tunggu dengar orang2 ngomong gaya chincaw lawra :)

  18. rd Limosin says:

    hehehe… secara saya sudah terbiasa gunainnya :)

    sebenerny sih pertama gak pernah pake, cuma liat2 di milis ternyata banyak yg make kata itu, jadi make juga deh

  19. adien says:

    salam..

    iya mas, saya juga terkadang bingung maksudnya apa neh!?
    saya kira.. saya yang tidak gaul :)

    *anak baru*

  20. Koen says:

    @Ronny:
    Awalnya dari mana? Aku punya beberapa teori. Tapi kepanjangan ditulis di (margin) ini.
    Lucunya di mana? Hmm, misalnya apa ya. Dia kadang dipakai untuk menerjemahkan sesuatu yang tak terjemahkan:
    -Jawa: “Wong saya lebih senior kok …”
    -Sunda: “Orang saya lebih senior …”
    -Indonesia (kacau): “Secara saya lebih senior …”
    Dan contoh2 lain yang hanya lucu kalau dianggap lucu :).

    Peace! Jangan ditiru!

  21. -tikabanget- says:

    yaa, secara sayah inih memang kuliah ndak lulus lulus, jadi yah, secara begini pula sayah begini begitu..
    tapi secara ini adalah trend sesaat, maka secara begini pula sayah jadi latah..

  22. bianca says:

    yup.
    gw juga uda eneg denger yg ngomong secara gitu looooooo

    mending juga KITA! Lu aja kali GUE ENGGAKZ

  23. Yoyo says:

    Mas Ronny,
    Mungkin bisa dibahas frase “di mana” yang sering digunakan di tengah kalimat, padahal itu merupakan kata tanya.
    Contoh : …di mana hal ini sudah dijelaskan oleh…

About

Ronny Haryanto is a technology addict/chef wannabe living in beautiful Melbourne, Australia.

Read more…

Follow Me on Twitter

Follow @ronny on Twitter where I post much more often than my blog.